Cerita Tentang Ompu Tuan Namarngingi

Hutapea
Ompu Tuan Namarngingi

Ompu Tuan Namarngingi adalah cucu dari Hutapea Unok dari garis keturunan Raja Mangimpal. Beginilah silsilah Ompu Tuan Namarngingi secara singkat, Hutapea Unok memiliki dua orang anak yaitu Raja Panjahut dan Raja Mangimpal. Raja Manginpal mempunyai 4 orang anak yaitu Ompu Runggu, Ompu Isorba, Ompu Tuan Namarngingi, dan Ompu Boltok Martua.

Ompu Tuan Namarngingi dikenal sebagai pembuka desa Pansurbatu yang berada di Tapanuli Utara. Pada awalnya Pansurbatu didiami oleh marga Hutapea Unok keturunan Ompu Tuan Namarngingi sebagai mayoritas, namun sekarang Pansurbatu sudah banyak di huni oleh marga-marga lain. Bahkan sampai saat ini kita dapat melihat makam/tambak Ompu Tuan Namarngingi di Pansurbatu. Pada Januari 2019 saya sudah pergi ziarah kesana.


Tambak Ompu Tuan Namangingi di Pansurbatu

Sebagai orang yang sangat terkenal di kalangan keturunan Hutapea Unok. Tentu saja ada cerita dan sejarah yang besar tentang Ompu Tuan Namangingi.

Cerita tentang Ompu Tuan Namarngingi

Ompu Tuan Namarngingi adalah seorang yang terkenal sakti dan terlahir berbeda dengan bayi pada umumnya yaitu lahir dengan kondisi dililit tali pusar dan gigi yang sudah lengkap. Oleh sebab itu ia diberi nama Namarngingi (dalam bahasa batak ngingi = gigi).

Selain memiliki kesaktian Ompung Tuan Namarngingi merupakan seorang yang cerdas dan cepat menguasai ilmu. Pada zaman dulu kesaktian adalah yang paling berharga, sehingga banyak orang ingin belajar menjadi dukun atau orang pintar salah satunya agar dapat mengobati penyakit.

Sama halnya dengan Ompu Tuan Namarngingi ingin menjadi dukun (datu) yang sakti. Ia pun pergi berguru ilmu kepada beberapa orang guru. Dan karena terlalu fokus memperdalam ilmu sampai-sampai ia terlambat berumah tangga.

Guru pertamanya bernama Ompu Tuan Djujur Lumbantoruan. Tidak perlu lama bagi Ompu Tuan Namarngingi mempelajari ilmu yang diajarkan. Kemudian ia memperdalam ilmunya kepada guru lain yang bernama Datu Rara Simatupang. Karena kesaktiannya, Ompu Tuan Namarngingi memiliki harimau peliharaan sebagai kendaraannya (hodana).

Pada akhirnya ia menikah dengan putri gurunya tersebut, yaitu boru Simatupang. Dari boru Simatupang ini ia mendapat 4 orang anak yaitu: Ompu Soaloon, Ompu Sorta, Ompu Saniangnaga Tunggal, dan Ompung Pardodo.

Setelah menikah Ompu Tuan Namarngingi beserta keluarganya tinggal disuatu daerah yang sekarang disebut Pansurbatu. Dialah yang pertama kali membuka daerah itu.

Kemudian Ompu Tuan Namarngingi menikah lagi dengan putri seorang raja, yang bernama Ompu Bulusan Situmeang. Maka istri keduanya adalah boru Situmeang. Zaman dulu memiliki istri lebih dari satu merupakan sesuatu yang lumrah.

Dari boru Situmeang ini ompu Tuan namarngingi memiliki seorang putri, menurut sumber yang saya dapat namanya Boru Asi-asi. Dan mereka semuanya hidup dengan tentram.

Pada suatu hari mertuanya Ompu Bulusan mengundang Ompu Tuan Namarngingi dan istrinya boru Situmeang untuk menghadiri acara syukuran renovasi rumah Bolonnya. Lalu pergilah ia bersama istrinya menghadiri undangan mertuanya itu, tetapi putrinya tidak ikut. Setelah sampai, Ompu Tuan Namarngingi pamit pergi ketempat lain kepada mertuanya oleh karena suatu urusan sementara istrinya ditinggalkan disana.

Sebagaimana rumah Batak pada umumnya, ukiran (gorga) pada rumah itu di cat sesuai dengan 3 warna dasar yang menjadi ciri khas orang Batak yaitu, merah, hitam, dan putih. Setiap warna tersebut memiliki arti masing-masing. Untuk bahan pewarna biasanya diambil dari tumbuh-tumbuhan yang ada di alam.

Cat merah yang dipakai untuk rumah itu harus dari darah manusia. Karena ada anggapan rumah yang dicat pakai darah akan lebih baik dan memberikan efek positif bagi penghuninya.

Sehingga Ompu Bulusan berencana memakai darah pembantu dirumahnya. Akan tetapi rencana tersebut didengar pembantu yang lain. Sehingga ia memberitahu kepada pembantu yang akan dibunuh.

Kebetulan pada malam harinya ompung boru Situmeang merasa lelah dan ia tidur dikamar pembantu yang akan dibunuh. Pada saat tengah malam, bersiap-siaplah anak buah Ompu Bulusan untuk membunuh pembantu itu. Karena cahaya dari obor samar-samar mereka tidak mengenali dengan jelas siapa yang tidur dikamar itu, sehingga terjadilah kesalahpahaman, yang mereka bunuh adalah boru Situmeang putri Ompu Bulusan.

"Ahu di Amang, borum do ahu!" (Ini aku ayah, aku putrimu).  Kata boru situmeang pada saat akan dibunuh dan diambil darahnya. "Namargabus do ho!" (kamu berbohong!) Jawab para pelaku.

Saat hari telah pagi Ompu Bulusan menemukan putrinya telah meninggal dibunuh, dan pembantunya masih hidup. Hal itu membua dia sangat terpukul. Kemudian berita tentang kematian boru Situmeang tersebar hingga sampai ketelinga Ompu Tuan Namarngingi. Kabar itu membuat Ompu Tuan Namarngingi sangat sedih kemudian ia kembali menemui mertuanya.

"Didia borumuna?" (Dimana putri bapak), tanya Ompu Tuan Namarngingi kepada Ompu Bulusan. "Nalaho do borukku tu ladang. Ta paima ma mulak" (Putriku pergi keladang, kita tunggu saja pulang) jawab Ompu Bulusan.

Kemudian Ompu Tuan namarngingi menanyakan tentang kebenaran kabar yang ia dengar. Tetapi Ompu Bulusan mengatakan tidak semua kabar itu benar, ada yang hanya kabar burung dan isapan jempol.

Hingga hari mulai malam, Ompu bulusan mengajak menantunya makan bersama. Tetapi ia sudah mencampurkan racun pada makanan untuk Ompu Tuan Namarngingi.

Kemudian racun tersebut bereaksi, meskipun sudah menggunakan kesaktian yang dimilikinya tetapi racun tersebut sepertinya tidak ada penawarnya. Akhirnya Ompu Tuan Namarngingi meninggal dunia.

Tersebarlah berita kematian Ompu Tuan Namarngingi kepada anak dan istrinya boru Simatupang di Pansurbatu. Hal itu membuat mereka sangat terpukul. Yang paling terpukul adalah si boru Asi-asi karena kehilangan bapak dan ibunya.

Setelah kejadian itu boru Asi-asi tinggal bersama salah seorang anak Ompu Tuan Namarngingi dan boru Simatupang. Akan tetapi ia mendapat perlakuan yang tidak baik karena dianggap menjadi penyebab kematian ayah mereka. Kemudian ia mengadu kepada tulangnya (paman) marga Situmeang. Pamannya menjadikan ia putrinya dan mengubah marganya menjadi boru Situmeang.

Sesudah dewasa ia menikah dengan marga Simanjuntak. Namun ia tetap ingat sebenarnya dia boru Hutapea. Kemudian ia menceritakan kepada keturunannya, bahwa ia sebenarnya adalah boru Hutapea keturunan Ompu Tuan Namarngingi.

Berdasarkan cerita yang saya dapatkan, sampai sekarang harimau peliharaan atau jelmaan Ompu Tuan Namarngingi katanya terkadang masih mau menampakkan diri atau berupa bekas cakaran dihalaman. Apalagi ada perselisihan antara keturunan Ompu Tuan Namarngingi di Pansurbatu.

Sampai saat ini ada larangan bagi marga Hutapea keturunan Ompu Tuan Namarngingi untuk menikahi situmeang keturunan Ompu Bulusan. Penyebabnya adalah karena sakit hati keturunan Ompu Tuan Namarngingi kepada Ompu Bulusan atas meninggalnya ayah mereka.

Baca Juga: Tarombo Si Raja Hutapea
Tetapi tentang larangan pernikahan Hutapea keturunan Tuan Namarngingi dan Boru Situmeang keturunan Ompu Bulusan sudah pernah terjadi. Dan tidak terjadi apa-apa pada keluarga mereka, ini berdasarkan pengakuan seorang marga Hutapea di sekitar tempat tinggal saya sekaligus sumber penulisan cerita ini. Mungkinkah sumpah tersebut hanya sebatas amarah sesaat atau mungkin karena keturunan Tuan Namarngingi yang sudah memafkan Ompu Bulusan? Hanya Tuhanlah yang tahu.

0 Response to "Cerita Tentang Ompu Tuan Namarngingi"

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kawan!!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel