Sejarah Manompas Bongbong Keturunan Guru Mangaloksa (Siopat Pisoran)

Bagaimana sejarah Manompas Bongbong marga-marga keturunan Guru Mangaloksa atau yang dikenal sekarang ini sebagai Siopat Pisoran penting untuk kita ketahui. 

Manompas bongbong


Manompas Bongbong atau tompas bongbong terkadang disebut juga tompas subang berasal dari kata tompas yang artinya meruntuhkan dan bongbong yang artinya penghalang atau penahan, sedangkan subang artinya tabu atau pantang. Secara sederhana manompas bongbong bisa diartikan keluar dari aturan yang ada. 

Manompas bongbong atau tompas bongbong adalah kesepakatan tetua-tetua adat, raja dan masyarakatnya untuk memulai (beberapa) marga baru sebagai pecahanan dari marga induk. Biasanya dilakukan setelah minimal 7 (tujuh) garis keturunan atau generasi (sundut). Sehingga larangan perkawinan semarga induk dihapuskan dan antar kelompok marga yang baru dapat saling kawin dan mengawini. Dalam bahasa Batak manompas bongbong ima sada aturan di habatahon boi gabe marhula-hula marboru angka namardongan tubu hian molo dung adong 7 sundut.

Salah satu contoh marga induk yang pecah menjadi beberapa marga adalah keturunan Guru Mangaloksa. Guru Mangaloksa merupakan keturunan dari Raja Hasibuan, secara otomatis maka Guru Mangaloksa bermarga Hasibuan. Marga Hasibuan inilah yang menjadi marga induk. Selanjutnya keturunan dari Guru Mangaloksa yang seharusnya memakai marga induk, sekarang terbagi menjadi beberapa marga baru yaitu: Hutabarat, Panggabean (Panggabean dan Simorangkir), Hutagalung, Hutatoruan (Hutapea dan Lumban Tobing).

Lalu bagaimanakah sejarah marga-marga keturunan Guru Mangaloksa manompas bongbong?

Seperti yang kita ketahui daerah Tarutung yang sekarang ini namanya Rura Silindung, dahulu bernama Huta Marsaitbosi. Setelah Patuan Datu Raja Bisa (mertua Guru Mangaloksa) pergi ke Barus kemudian berganti nama menjadi Rura Parmonsakan atau Rura Mangaloksa Na Borboran, nama ini dibuat oleh Guru Mangaloksa sendiri yang merupakan Guru Monsak (Silat Batak) yang sakti mandraguna pada zamannya. 

Didaerah ini dahulu banyak terjadi kisah hidup sejarah leluhur tanah Batak seperti Perginya keturunan Borbor ke Barus, padan Hutabarat - Silaban, Boru Natumandi, kegiatan misionaris, Porang Si Opat Pusoran-Naipospos dan masih banyak lagi salah satunya yaitu Manompas Bongbong.

Daerah ini kemudian menjadi pusat perkembangan Pomparan Guru Mangaloksa (PGM) yang menguasainya setelah mengusir marga lain yang tinggal disana. Sehingga Rura ini menjadi angker bagi marga lain, sehingga tidak ada yang berani berkunjung maupun melewatinya, akibatnya PGM agak terkucil dan menjadi komunitas yang hampir homogen, sehingga rawan terjadi cinta kasih diantara sesama muda-mudi keturunan Guru Mangaloksa.

Kisahnya pada Generasi ke-6 keturunan Guru Mangaloksa seorang dari keturunan Si Raja Nabarat bernama Ompu Lompo tengah jatuh hati pada seorang perempuan dari keturunan Si Raja Hutatoruan, pada saat itu PGM masih belum saling menikahi. Karena itu tidak lazim sehingga Bindoran (nama saudara laki-laki dari pihak perempuan) membunuh Ompu Lompo. Karena kejadian itu Tuan Somarantus (generasi 7) atau anak dari abang Ompu Lompo bersama keluarga meninggalkan Rura Parmonsakan menuju Lobu Panabungan (Tapanuli selatan).

Beberapa tahun kemudian, terjadilah sesuatu kejadian yang aneh di kampung tersebut. Air sungai mengalami kekeringan dan ikan-ikan banyak mati hingga merusak persawahan. Masyarakat setempat mulai bertanya-tanya apa penyebab kejadian ini semua.

Kemudian tetua adat Si Opat Pusoran menemui paranormal yang ada di kampung Aek Rangat. Si Datu akhirnya berpesan supaya Ompu Somarantus di jemput kembali ke pulang ke kampung agar Tuhan mengampuni dan mengasihi penduduk kampung itu kembali dan terhindar dari bencana kekeringan yang terjadi.

Pada awalnya Ompu Somarantus yang di jemput tetua adat tidak bersedia pulang. Tapi dengan perjanjian bahwa tetua adat harus membalas kematian Ompu Lompo dengan membunuh Bindoran. Sekembalinya Ompu Somarantus, keluarga besar Opat Pusoran berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa di kampung Aek Rangat. Tak lama kemudian hujan pun turun menyirami tanah persawahan hingga masyarakat pinompar Guru Mangaloksa kembali hidup sejahtera dan makmur.

Mengenai Si Bindoran sebagai pelaku eksekusi pemenggalan kepala Ompu Lompo, tidak ada yang berani membunuh karena ditakutkan terjadi perang saidara. Maka direncanakanlah sebuah skenario membunuh beliau dalam sebuah acara pesta gondang yang di gelar untuk mengelabuinya. Dia pun akhirnya mati terbunuh pada saat pesta itu.

Waktu berlalu beberapa puluh tahun kemudian cerita kematian Ompu Lompo dan Bindoran menjadi momok 
yang menakutkan bagi sesama PGM. Kemudian Tuan Soripada (generasi 9 dari Guru Mangaloksa) cucu dari Tuan Somaruntus menyukai gadis keturunan Hutatoruan (dari Lumban Tobing). Sehingga niat tersebut disampaikan dalam rapat adat dan akhirnya disetujui oleh tetua adat, untuk menghilangkan luka atas kematian Ompu Lompo dan Bindoran dibuatlah acara memotong kerbau. Semenjak Manompas Bombong inilah pertama kali marga-marga keturunan Guru Mangaloksa boleh saling menikahi (marhula-hula marboru).

Dikarenakan Manompas Bongbong ini terjadi pada generasi ke 9, maka PGM yang telah merantau dari Silindung masih tetap memakai marga Hasibuan. Mereka adalah Raja Inum/Matasapiak (generasi ke 3) cucu Raja Hutagalung merantau ke Kota Pinang mereka adalah Hasibuan Dasopang, Namorasende Tua (generasi ke 6 dari Guru Mangaloksa) keturunan Lumban Tobing merantau ke Sibuhuan mereka adalah Hasibuan Hasahatan/Botung dan masih banyak lagi, dan sulit untuk mencari dikarenakan saudara kita yang tinggal di Tapsel jarang yang memiliki Tarombo.
Baca Juga: Fakta Unik Marga Hutapea
Begitulah cerita awal mula mengapa marga keturunan siopat pisoran boleh saling menikahi. Semua itu setelah kesepakatan para tetua adat untuk Manompas Bongbong. Apakah kita sebagai keturunan Guru Mangaloksa mau ikut menikah dengan sesama PGM? Itu terserah masing-masing, tetapi menurut saya sebaiknya tidak usah lagi karena sekarang sudah banyak gadis-gadis dari marga lain.

0 Response to "Sejarah Manompas Bongbong Keturunan Guru Mangaloksa (Siopat Pisoran)"

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kawan!!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel